Wednesday, December 26, 2018

ti 2



Saat ini aku sedang menulis tentang kamu, kamu wanita yang pernah hadir dalam hidupku dan sudah hampir dua hari tulisan tentang kamu belum juga rampung. Apa kamu tahu betapa susahnya menulis tentang kamu, aku harus berdamai dengan rasa sakit untuk bisa benar-benar menuangkan apa yang ada dalam ingatanku kedalam sebuah tulisan. Tak mudah memang, tapi entah kenapa rasanya jemariku ingin terus menari menceritakan tentang kamu kedalam sebuah tulisan meski sebenarnya pikiranku menolaknya karena memang mengingatmu sama saja dengan membuka kembali luka lama.
Setiap aku membuka kembali ingatan tentang dirimu rasanya dada ini sesak, rasanya dada ini ingin meledak saja hancur berkeping bersama luka di dalamnya, namun jemariku terus saja dalam tariannya menceritakan tentang dirimu kedalam sebuah tulisan. Dan tiba-tiba ponselku berdering, dari nomor tidak diketahui, tanpa nama, lalu ku angkat;
“Halo, dari siapa ya?” ada sedikit tawa yang kudengar ketika kutanya ini, namun tawa yang terdengar bukan tawa bahagia aku tahu itu seperti menutupi sesuatu.
“Ini aku ….. .”
“Oh iya ada apa?”
“Ngga, aku cuma mau minta maaf sama kamu.”
“Sudah dimaafkan dari dulu.”
“Ya ngga enak aja kalo ngga ngomong langsung, aku minta maaf ya.”
“Ngga usah merasa seperti itu aku udah maafin kamu dari dulu.”
Obrolan yang sangat singkat, mungkin bagimu tak berarti apa-apa namun aku merasa begitu sesak setelahnya, aku merasa beribu pedang tertancap di dadaku.
Seperti biasa bagimu semuanya nampak mudah, dengan mudah pergi menghancurkan hati, dengan mudah datang menghancurkan usaha melupakan, dengan mudah bilang bahwa Tuhan bisa dengan mudah membolak-balikan hati seseorang (katamu) dan dengan mudah bilang maaf seolah tak pernah terjadi apa-apa.
Kamu adalah pergi yang selalu ingin aku cari, kamu adalah kehilangan yang selalu ingin aku temukan, tapi Tuhanmu itu memang maha guyon Ia suka membolak-balikan hati (katamu) kadang menghancurkannya atau membuatnya utuh kembali, Tuhanmu itu juga maha asyik Ia itu hebat, Ia bisa menciptakan begitu banyak orang munafik seperti mereka, seperti dia, kamu ataupun aku. Kurasa sekarang kamu sudah begitu dekat dengan-Nya, aku harap kamu bisa lebih bertanggung jawab terhadap dirimu sendiri juga tentang apa yang pernah kamu katakan.
Terima kasih.
Bogor, 26 Dec. 18

Sunday, September 2, 2018

Jika rindu

Rindu itu
Selalu tentang temu
Tapi yang tak
Kau tahu
Rindu adalah
Lebih dari itu
Dan jika rindu
Tak butuh kata
Maka tindakan
Juga sia
Meski dia
Punya banyak cerita
Dan saya
Hanyalah kata

Friday, August 17, 2018

Janjiku


Bawakan padaku
Segudang aksara tak tertata
Yang mulai mengusang itu
Yang terkoyak tak bermakna

Kan kurangkaikan untukmu
Tumpukan bait penuh kata
Lantunan syair berirama merdu
Lembaran sajak sarat makna

Bawakan padaku
Sejumput asa yang binasa
Setangkai rindu yang melayu
Atau cinta penuh luka

Kan kuhidupkan harap itu
Penuh cinta tanpa duka
Kusirami rindu bak canduku
Bersama cerita penuh warna

Sentuh hatiku
Maka bahagia
Ini janjiku
Coba saja

Tuesday, August 7, 2018

Selat Nasik


Kemanapun mata memandang hanya laut
Juga beberapa pulau kecil yang berserakan
Dan pada apapun pendengaran dipusatkan
Hanya desing kapal
Dan hembus angin yang kudengar

Di barat sana mentari mulai tenggelam
Senja jingga mulai menyilaukan
Di atas sana kurasa bulan terlalu cepat
Menampakan wujudnya

Debur ombak yang menerjangi karang
Terdengar menyanyi memanggil-manggil

Buih dari baling-baling kapal
Menjadi pertanda jejak telah dilangkahkan
Membelok ke kiri memasuki pelabuhan
Terlihat beberapa kapal nelayan yang bersandar

Begitu mesin dimatikan
Yang terdengar hanya dengung margasatwa
Bersahut-sahutan bersama kedatangan ku

Aku merasa senang
Dapat menginjakan kaki di Selat Nasik ini
Dan debur ombak itu
Lebih indah dari sunyi yang kemarin

Tuesday, July 31, 2018

Aku menginginkan perubahan


Aku pernah berada di posisi ini sebelumnya
Dan untuk kesekian kalinya
Aku merasa benar-benar bodoh
Ketika pemikiran dijungkir balikan
Oleh keadaan, oleh kenyataan
Dan oleh berjuta kemungkinan
Lain tentang kehidupan
Dan aku merasa
Aku hanyalah tinggal sebatas hewan yang bodoh
Maka tak ada kebahagiaan
Karena apa yang aku lakukan
Berbeda dengan apa yang aku pikirkan
Dada ini sesak!!!
Perkataan ini bukan tanpa makna
Ini kata berisi banyak tanya
Terlalu letihkah kau menjawabnya???
Tak letihkah engkau memaksakan kehendak terhadapku???
Tak seperti kebanyakan orang lainnya
Yang hanya menyimpan harap
Kali ini aku akan meloncati nasib
Tak alang kepalang
Menuju arah tenpa lelah
Melintasi jalan membela angan
Aku memginginkan perubahan

Dari seorang manusia
Yang merasa tak dimanusiawikan

Sunday, July 29, 2018

Yang manis

      Hey manisku,

      Apakah kamu bahagia bersamanya?

      Saya harap jawabannya adalah "iya" Dan saya harap akan tetap seperti itu selamanya. Meski jujur, Sebenarnya saya merasa cemburu.

      Apakah kamu mengetahui hal itu? Saya harap tidak.

      Tapi tak mengapa, Ketika saya tak bisa membuatmu senang, di sana masih ada seseorang yang bisa membuatmu bahagia.

      Saya ini hanyalah kata yang tak bermakna dan tak terbaca, sedang dia punya banyak cerita yang tak satupun saya punya. Meski kamu tak merasa ter binasakan, saya ini hitam yang merasa hina, sedang dia adalah Pelangi yang punya berjuta warna. Saya ini malam tanpa temaram, menjelma menjadi gelap yang mengendap dan dingin diselimuti nya. Hampa!!!

      Seperti yang pernah kamu katakan dulu, saya adalah harapan hilang yang kembali hadir dan berada diantara. Dan saya akan selalu ada. Jadi kapanpun kamu membutuhkan saya, datanglah!!!

      Entah, ini perasaan sayang atau hanya penyesalan saja. Tapi yang pasti saya tak pernah ingin merasa begitu jauh darimu.

      Yang manis.

Saturday, July 28, 2018

Hujan ketiga ( berada diantara )

Kamu tahu
Yang sulit itu
Berada diantara
Entah berada diantara
Yang saling mencinta
Berada diantara
Yang saling marah
Ataupun berada diantara
Yang saling menjaga hati
Berada diantara
Itu sulit

YM

Hujan kedua ( sepi )

Saat merasa sepi
Ku ambil sebuah pena
Dan secarik kertas putih
Meski
Aku tak tahu harus menulis apa
Kupejamkan mataku beberapa saat
Tapi tak juga kudengar
Suara bening dalam hatiku
Nurani ku tak mau berbicara
Lalu ku buka tirai imaji
Ku temukan beberapa aksara
Berserakan dan mengusang
Lalu ku buka kembali
Kedua bola mataku
Aku terperangah
Jari Jariku membeku
Aku melihat beberapa kata menari
Dan bernyanyi di atas kertas ku
Seolah-olah mereka berkata;
"menarilah bersamaku, bernyanyilah tanpa henti. Aku selalu ada dalam sepi mu, aku selalu menari dalam setiap gurat pena mu, aku selalu bernyanyi dalam setiap putih kertas mu, karena akulah hitam mu"

Hujan pertama ( di hancurkan Harapan )

Tanah di sini terlalu kering
Untuk dipakai
Juga Mentari terlalu panas
Melelehkan Harapan
Saya jadi berharap pada hujan
Membiarkan hujan turun
Basahi jiwa yang lelah
Namun saya keliru
Hujan pertama
Selama saya menginjakkan kaki
Di tanah Belitung ini
Di pagi yang buta itu
Datang bersama angin kencang
Bersama dingin yang tak tertahankan
Bersama sepi yang menyelimuti
Bersama gelegar yang menyambar
Bersama gelap yang mengendap
Menyeramkan!!!
Ya . . . Seperti itulah Harapan
Terkadang ia menghancurkan
Yang mengharapkan

Sunday, July 22, 2018

Rinduku

Lisan
Tak mampu mengatakan
Tulisan
Tak sempat terbacakan
Lalu ku terbangkan
Bersama tarian angin
Ia jatuh di hadapan
Ku titipkan pada laut
Ia membentur karang
Bahkan ombak
Menyeretnya kembali ke bibir
Rinduku
Dan tentu saja
Rindu ini tentang kamu
Biar kini kusandarkan
Pada do'a tabah
Semoga tuhan (Allah)
Bisa menyampaikan
Rinduku

Belitung, 19 maret 2018

Tak lagi terlihat

Setiap malam
Saya duduk di jendela
Bersama angin
Dingin diselimutinya
Melihat ke langit luas
Mengamati pergerakan awan
Lalu berharap
Bintang kan nampak dibaliknya
Cahayanya kan gemerlap menghiasi
Namun malam ini
Bintang tak muncul
Kemarin tidak
Pun begitu malam sebelumnya
Seperti senyum mu
Yang tak lagi terlihat

Belitung, 14 maret 2018

Enigma

Gelap selalu menjadi awal
Dimana tirai imajiku terbuka
Berdialog ramah dengan malam
Bersenda gurau dengan hembus angin
Atau bercengkrama dengan dingin
Namun tak sedikitpun
Aku merasa senang malam ini
Dan tak juga merasa bersedih
Lantas?
Entahlah
Ini sebuah misteri
Yang tak kuketahui
Padahal begitu jelas
Kudengar suara hembusan angin
Begitu terasa dinginnya menyelimutiku
Hanya saja
Aku merasa begitu kosong malam ini

Belitung

Diam dalam kelam (lelah bukan menyerah)

Tunggu yang tak tahu
Untuk sebuah temu
Yang tak menentu
Cara pandang yang terlalu sempit
Takan mengerti
Apa yang dialami
Tapi itu selalu yang terlalu
Terima kasih
Untuk caramu melihatku
Memang!!!
Aku sedang berdiri
Diam dalam kelam
Di atas takdir
Yang di tulis
Di lukis
Di jemari
Di tanganku
Dan di garis tangan ini
Aku merasa lelah
Namun bukan berarti aku menyerah
Dengar!!!
Aku menjawab
Pandanganmu terlalu sempit
Namun aku mengerti diriku

Belitung
Malam penuh kata

Kampung nelayan Tanjung Bingak

Dua hari lalu
Saya kirimkan rindu
Bersama kencangnya
Tiupan angin dari barat
Di kampung nelayan
Tanjung Bingak
Bersama nelayan
Para penantang maut
Yang menggantungkan harap
Pada gelombang besar
Yang dibawa angin barat
Sudahkah kamu terima?
Semoga saja

Belitung, 24 februari 2018

Oposisi Rasa

Di mana jejak kaki kucari Di sana langkah kau hentikan Saat rindu memuncak mendaki Sejumput asa masih saja kau campakan   Sementar...