Saat ini aku sedang menulis tentang
kamu, kamu wanita yang pernah hadir dalam hidupku dan sudah hampir dua hari
tulisan tentang kamu belum juga rampung. Apa kamu tahu betapa susahnya menulis
tentang kamu, aku harus berdamai dengan rasa sakit untuk bisa benar-benar
menuangkan apa yang ada dalam ingatanku kedalam sebuah tulisan. Tak mudah
memang, tapi entah kenapa rasanya jemariku ingin terus menari menceritakan
tentang kamu kedalam sebuah tulisan meski sebenarnya pikiranku menolaknya
karena memang mengingatmu sama saja dengan membuka kembali luka lama.
Setiap aku membuka kembali ingatan
tentang dirimu rasanya dada ini sesak, rasanya dada ini ingin meledak saja
hancur berkeping bersama luka di dalamnya, namun jemariku terus saja dalam
tariannya menceritakan tentang dirimu kedalam sebuah tulisan. Dan tiba-tiba
ponselku berdering, dari nomor tidak diketahui, tanpa nama, lalu ku angkat;
“Halo, dari siapa ya?” ada sedikit
tawa yang kudengar ketika kutanya ini, namun tawa yang terdengar bukan tawa
bahagia aku tahu itu seperti menutupi sesuatu.
“Ini aku ….. .”
“Oh iya ada apa?”
“Ngga, aku cuma mau minta maaf sama
kamu.”
“Sudah dimaafkan dari dulu.”
“Ya ngga enak aja kalo ngga ngomong
langsung, aku minta maaf ya.”
“Ngga usah merasa seperti itu aku
udah maafin kamu dari dulu.”
Obrolan yang sangat singkat, mungkin
bagimu tak berarti apa-apa namun aku merasa begitu sesak setelahnya, aku merasa
beribu pedang tertancap di dadaku.
Seperti biasa bagimu semuanya nampak
mudah, dengan mudah pergi menghancurkan hati, dengan mudah datang menghancurkan
usaha melupakan, dengan mudah bilang bahwa Tuhan bisa dengan mudah membolak-balikan
hati seseorang (katamu) dan dengan mudah bilang maaf seolah tak pernah terjadi
apa-apa.
Kamu adalah pergi yang selalu ingin
aku cari, kamu adalah kehilangan yang selalu ingin aku temukan, tapi Tuhanmu
itu memang maha guyon Ia suka membolak-balikan hati (katamu) kadang
menghancurkannya atau membuatnya utuh kembali, Tuhanmu itu juga maha asyik Ia
itu hebat, Ia bisa menciptakan begitu banyak orang munafik seperti mereka,
seperti dia, kamu ataupun aku. Kurasa sekarang kamu sudah begitu dekat
dengan-Nya, aku harap kamu bisa lebih bertanggung jawab terhadap dirimu sendiri
juga tentang apa yang pernah kamu katakan.
Terima kasih.
Bogor, 26 Dec. 18
No comments:
Post a Comment