Pada titik ini dalam hidupku, aku telah banyak mengalami kejadian, entah itu kejadian yang menyenangkan, menyedihkan, mengharukan atau berbagai macam kejadian lainnya, dan di kesempatan kali ini aku ingin sedikit bercerita tentang aku dan ibuku.
Di hari itu pada sebuah sore menjelang maghrib aku baru pulang dari sekolah dalam keadaan basah kuyup (di kesempatan lain akan kuceritakan bagaimana aku bisa pulang dalam keadaan basah kuyup) aku masuk kedalam rumah.
“assalamuallaikum”
“wallaikumsalam” sahut ibuku sembari bertanya, “kenapa baru datang menjelang maghrib begini?”
“tadi mampir ke kost temen dulu bu” jawabku.
“ya sudah langsung mandi sana”
Tak berlama-lama akupun bergegas mandi lalu pergi makan setelahnya, setelah selesai makan kulihat dia masih saja bersantai di ruang tengah sembari menonton tv bersama keponakanku, kuhampiri mereka lalu kuajak mereka becanda untuk mencairkan suasana. Karena ibuku adalah orang yang mudah geli lalu kupegang kedua pinggangnya, ia merajuk sembari membalasku dengan cubitan, aku tak berhenti memegang pinggangnya, keponakanku tersenyum menyaksikan, ibuku tertawa terbahak-bahak, sampai pada suatu titik mungkin ia sudah lelah becanda denganku, ia menyingkirkan tanganku dari pinggangnya, namun aku tetap saja mencoba meraihnya.
ibuku berteriak “kamu tuh ya, bisanya cuma gangguin ibu saja, ga pernah ngasih ibu apa-apa, ngasih ibu uang yang banyak kek atau rumah yang megah”
secara spontan kulepaskan tanganku dari pinggannya, karena kutahu dari nada bicaranya ia sedang marah.
Lalu kujawab “bu, saya masih sekolah. saya memang belum bisa ngasih ibu apa-apa, saya belum bisa ngasih ibu uang ataupun rumah, tapi setidaknya saya bisa membuat ibu tertawa dengan candaan saya. Sekarang misalnya ibu punya banyak uang tapi saya tidak ada, saya yakin ibu tidak akan bisa tertawa-tawa seperti tadi, saya yakin ibu takkan merasa bahagia seperti tadi. Uang bukan segalanya bu, sekarang coba saja ibu pergi ke warung dan bilang mau beli candaan si Opan atau mau beli kebahagiaan. Saya yakin di warung manapun takkan ada yang menyediakannya bu”
Ibuku terdiam, akupun terdiam dan kami semua terdiam. Mungkin ibuku merasa bersalah karena bicara seperti itu padaku, akupun merasa bersalah setelahnya, tapi aku rasa ucapan itu memang perlu aku sampaikan padanya. Walau bagaimanapun aku sangat menghargai ibuku melebihi siapapun, aku menyayanginya, benar- benar menyayanginya.
Terkadang kita terlalu sibuk memikirkan masa yang akan datang, terlalu sibuk mencari-cari kebahagiaan, sampai-sampai kita lupa pada apa yang telah kita miliki, lupa pada siapa yang sebenarnya selalu mendampingi. Padahal masa depan sangatlah dekat, kebahagiaanpun sangatlah nyata, seperti kebersamaanku dengan ibuku diatas misalnya.
Aku sangat bersyukur memiliki ibu seperti dia, dan bagiku dia adalah wanita ilham dari surga.
Untukmu yang sedang membaca tulisan ini, cobalah hampiri ibumu, ajak ia becanda atau hanya sekedar mengobrol saja, cairkan suasananya, nikmati kebersamaan itu karena pada dasarnya banyak diantara kita yang tak bisa menghargai kebersamaan yang sederhana itu. dan untuk kalian yang mugkin sudah ditinggal pergi oleh ibumu, jangan bersedih, sapa dia dalam do’amu, aku yakin Allah akan menyampaikannya pada ibumu.
Terima kasih untuk kalian yang menyempatkan membaca tulisan ini, share ke teman kalian jika kalian suka tulisan ini, jangan lupa tinggalklan kritik dan saran dikolom komentar dibawah. Salam sejahtera untuk kita semua.
Salah satu kebersamaanku dengan ibuku;

Keren banget! Terharu!
ReplyDelete