Saya pernah
kehilangan kamu waktu lalu, dan tak mudah bagi saya untuk merelakanmu. Takan
mudah, beradaptasi dengan situasi baru yang tak saya inginkan dan hidup yang
tanpa kamu. Namun saya harus tetap berusaha, untuk terus memperjuangkanmu atau
bahkan berusaha melupakanmu.
Ketika saya
memilih berjuang tentunya tak akan mudah. Tak akan semudah caramu untuk
meninggalkan saya, tak sesimpel kita tak melihat bulan yang sama lagi. Saya
menyapa kamu acuhkan, saya coba mendekat kamu menjauh, dan semakin menjauh.
Bahkan nampaknya kamu tak ingin mengenal saya lagi, mungkin segala sifat dan
jiwamu terbang diculik makhluk luar angkasa, entahlah. Ah, andai saja saya bisa
memesan kamu yang dulu pada Tuhan.
Lalu ketika
berjuang tak mendapat penghargaan saya putuskan untuk melupakan, semua rasa,
semua kenangan dan semua pedihmu yang indah, saya ingin lupakan. Dan ketika itu
kamu datang dengan tiba-tiba, menghancurkan semua usaha saya untuk melupakanmu.
Entah apa yang sebenarnya kamu inginkan dari saya, dengan mudah pergi
menghancurkan hati, dengan mudah datang menghancurkan usaha melupakan dan
dengan mudah pula mengubah hidup saya menjadi menyenangkan, lagi :( . Tapi
hanya sesaat dan kamu pergi lagi. Lantas untuk apa? Kamu kembali dari pergi
yang saya harap kembali namun pergi lagi.
Mungkinkah kau
ti tiada lagi? Berjalan pergi tiada kembali.
Kubang, September 2017
Tertanda
Opan.